Muhammad Mulki Ibrahim
BERSENDER SANTAI – Mulki menyenderkan badannya ke tembok gedung Vander yang berada
di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), Jawa Tengah, 14 September 2011 lalu.
|
Berhari-hari setelah Mulki (23) meninggalkan rumahnya di Palu, Sulawesi Tengah pada bulan September 2005 lalu, dirinya masih diliputi awan kesedihan. Rasa sedih itu muncul karena dia harus berpisah dengan kedua orang tuanya dan keluarganya. Namun, satu sisi yang membuat air mata kesedihan itu terhapus adalah karena akhirnya dia menemukan cahaya yang selama ini bersembunyi dibalik keyakinan yang dianutnya.
Nama barunya kini Muhammad Mulki Ibrahim.
Sosoknya yang teguh membuatnya berhasil keluar dari belenggu dan mendapatkan satu titik terang dalam hidupnya. Inilah resiko yang harus diambil laki-laki yang kini masih duduk di bangku kuliah semester akhir jurusan Tafsir Hadit Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Pilihanya untuk memulai hidup di kota kembang ini bukan tanpa alasan. Dia datang bersama beribu tekad dan harapan meraih hidup lebih baik. Langkah-langkahnya menuntunnya terjun dalam dunia islam yang selama ini dirindukannya. Mempelajari ayat-ayat suci Al-Qur’an dan beribadah hingga inilah yang saat ini amat dicintainya.
Bagi
Mulki, sebuah ketentraman dan keindahan hidup yang kini dia rasa berawal
dari sentuhan lembut lantunan ayat suci
Al-Qur’an yang di dengarnya ketika lewat di pelataran masjid, hingga ayat suci
itu menembus dalam hatinya. Firman Allah inilah yang membuatnya menemukan
pencerahan dan pemaknaan hidup sehingga dia ingin menggali dan mempelajari
islam lebih dalam.
Mengambil
sebuah pilihan dalam hidup, akan memperolah sebuah konsekuensi. Begitupun bagi
hidup Mulki adalah sebuah pilihan. Ketika sebuah pilihan itu diambilnya, tak bisa
terelakkan sebuah konflik datang bermunculan. Konflik internal dan eksternal
pun kini harus dihadapinya. Dan tidak
mudah baginya mengakhiri konflik ini. Jika dikatakan menghindar dari masalah,
mungkin inilah jalan terbaik yang dapat diambilnya. “Saya lebih memilih
menyingkir dan menghindar terlebih dahulu untuk sementara waktu untuk lebih
memperdalam islam yang baru saya kenal ini” tuturnya bercerita.
Sejak
awal mengambil pilihan, laki-laki berkaca mata ini sangat kesulitan untuk
menjadi penganut agama yang sungguh-sungguh terutama dalam beribadah sholat.
Bahkan perjalanannya seperti dakwah Rosul yang secara sembunyi-sembunyi. Hal
ini dilakukannya sebab Mulki merasa takut akan mempunyai masalah dengan kedua
orangtuanya. Tetapi pada akhirnya, tindakan sembunyi-sembunyi ini dapat
terendus kedua orang tuannya, dan meletuslah konflik internal di keluarganya.
Namun berkat kegigihannya, usahanya membuahkan hasil. Saat ini konflik
internalnya dapat diredam, dan perlahan keluarganya bisa menerima jalan yang
sudah dipilihnya.
Selama
hampir 7 tahun lamanya, Mulki terpaksa terpisah dengan keluarganya di kota Palu.
Hunian barunya kini di Bandung, memberikan cerita tersendiri baginya. Budaya di
kota Palu dan kota Bandung baginya berbeda dari segi kultur dan bahasa. Ditambah
lagi dengan kegiatan yang cukup padat memberinya warna dan kebiasaan tersendiri
di kehidupannya sekarang. Baginya, beradaptasi selama 7 tahun masih kurang
untuk mengenal kota Bandung sekaligus budayanya, termasuk pengenalan dan penggunaan bahasa sunda.
Tempatnya
bersosialisasi di kota Bandung ini berawal dari mesjid, “saya teringat kata
seorang pendeta, jika ingin mencari hamba Tuhan carilah di rumahnya,” tutur
Mulki bercerita. Atas dasar perkataan itulah dia mengunjungi masjid-masjid dan
belajar islam dari orang-orang shalih
yang ditemuinya.
Sekitar
bulan Agustus 2011 lalu, adalah pertama kalinya lagi Mulki menginjakkan kakinya
di kota orang tuannya. Berbagai tanggapan pun bersarang pada dirinya, “Ini
benar Melki?, ko bisa berubah?” cerita Mulki menggambarkan tanggapan
tetangganya. Melki, nama awal Mulki hanya bisa menganggapi dengan senyum dan
candaan ringan. Begitu tuturnya bercerita saat diwawancarai.
Sebagai
seorang pemuda yang masih menyandang gelar mahasiswa, Mulki tak pernah
menyia-nyikan kesempatan untuk aktif di berbagai organisasi dakwah. Kegiatannya
sebagai aktivis dakwah,ini selalu membakar semangat juangnya yang
menyala-nyala. Menyerukan ajaran islam dari satu tempat ke tempat lain, dari
satu mesjid ke mesjid lain, dan dari satu komunitas ke komunitas lain.
Begitulah langkahnya beriring mengamalkan indahnya ajaran islam.
Bagi
Mulki, sebuah anugerah terindah ketika ada seseorang yang mengikuti jalannya.
Seorang ibu yang sangat mencintainya ternyata memiliki arah yang sama
dengannya. “Alhamdulillah, ibu saya sekarang menjadi aktivis dakwah seperti
saya, dan aktif menjadi pengajar tahsin Al-Qur’an,” tutur Mulki bercerita saat
diwawancara mengenai ibunya. Bagi Mulki ataupun Ibunya, memilih jalan ini
tidaklah mudah, banyak liku-liku dan onak duri yang datang untuk menghadang.
Dalam
pilihan barunya kini, Mulki tetap memperjuangkan tekadnya untuk meraih cita-citanya
yaitu menjadi seorang hapidz Qur’an, menulis tafsir Al-Qur’an juga menjadi ulama
besar. Baginya, sesuatu yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh akan
membuahkan hasil yang memuaskan. Meskipun setiap pilihan itu beresiko. Namun,
baginya resiko ini telah terbayar oleh semua kebahagiaan yang dia dapat,
ketentraman hati, ketenangan hidup dan beribadah, adalah satu titisan yang tak
akan bisa terbeli oleh apapun jua. Iman dan islam yang bernaung dalam hatinya
tak akan bisa tergantikan lagi.***Ana Marliana/Jurnlaistik IV/A***

Posting Komentar